• Jl. KH. Sholeh Iskandar Km. 2 Kedung Badak Bogor

Suasana menjelang PEMIRA FKIP UIKA

Menjelang diadakannya acara debat kandidat dan pemilihan raya Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (Gubem) dan Wakil Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (Wagubem) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UIKA Bogor periode 2019-2020 yang akan diselenggarakan pada tanggal 25 dan 28 Oktober 2019 suasana di dalam internal dan eksternal kampus khususnya di wilayah FKIP UIKA semakin seru untuk diikuti perkembangannya. Bagaimana tidak? Sebelumnya terhitung ada tiga kandidat yang telah mencalonkan diri menjadi Gubem dan Wagubem, yaitu nomor urut satu; Akmal dan Reza, lalu nomor urut dua Galang dan Maeleni dan nomor urut tiga Huda dan Rohim. Namun sangat disayangkan salah satu dari pasangan calon nomor urut 2 menurut sumber yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan pernyataannya yaitu KPRM (Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa) selaku penyelenggara dan panitia acara mengumumkan bahwa pasangan calon nomor urut 2 dinyatakan telah didiskualifikasi dari pemilihan raya ini dikarenakan yang bersangkutan tidak memenuhi syarat untuk maju sebagai calon Gubernur dan wakil Gubernur BEM FKIP UIKA Bogor periode 2019-2020. Mengecewakan memang, apalagi bagi pihak yang telah menjadi tim sukses ataupun pendukung pasangan calon nomor urut 2 tersebut, namun peraturan tetaplah peraturan dan harus selalu ditaati.
Di sisi lain, kontestasi yang mengandung segala macam retorika politik kampus ini juga semakin panas suasananya setelah terdepaknya pasangan calon nomor urut 2, mau tidak mau secara otomatis hanya akan ada dua pasangan calon atau kandidat yang menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur BEM FKIP UIKA Bogor pada kontestasi tahun ini. Secara tidak langsung hal ini dapat berdampak pada semakin memanasnya hawa perpolitikan di dalam kampus yang mana akan menjadi semakin seru untuk terus diikuti perkembangannya. Apapun itu, terlepas dari semua hal-hal yang telah dijabarkan di atas, semoga siapapun calon yang terpilih nantinya, semoga dapat memajukan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UIKA Bogor ini dan menjadikan semua civitas akademika UIKA Bogor khususnya di lingkup FKIP menjadi lebih tersinergi dan bersinergi untuk saling memajukan FKIP itu sendiri, tanpa embel-embel kepentingan masing-masing pihak. Karna tidak ada yang lebih buruk selain dari kepentingan pribadi yang dibungkus oleh retorika abal-abal yang mengaku sebagai kepentingan bersama.

Hidup Mahasiswa, hidup FKIP UIKA, hidup rakyat Indonesia.